Nasihat bijak kakek Thariq

Nasihat bijak kakek Thariq

Malam yang indah berhiaskan rembulan dan bintang gemintang yang menerangi malam dengan cahanya yang lembut dan tenang. Malam itu dimana semua orang telah terlelap dalam mimpinya masing-masing, aku sedang menatapi langit malam yang indah sambil tersenyum mengagumi ciptaan Tuhan. Semilir angin malam yang dingin menyapaku, hembusannya membuat pikiran dan hati menjadi tenang, melihat pemandangan langit yang bertaburkan cahaya-cahaya bintang dan rembulan, membangkitkan memori-memori kenangan dalam pikiranku, membuatku ingin menjelajah-menjelajah masa lalu dan kembali kesana.

Kupejamkan mataku sambil menghirup dinginnya udara malam, ketika menutup mata aku membayangkan ingatan-ingatanku saat aku masih SD dahulu, masa-masa itu adalah masa-masa paling menyenangkan yang pernah kualami seumur hidup karena masa-masa SD adalah masa-masa dimana kita tidak terikat dengan aturan, hidup sekehendaknya dan bermain sepuasnya. Sewaktu masih SD aku dan kawan-kawanku sering sekali berpetualang mencari ikan, buah-buahan, dan bahan-bahan untuk dijadikan mainan tradisional, aku bersyukur aku dapat sekolah dikampung dikarenakan kehidupan kampung adalah kehidupan yang paling murni tidak ada kata individualis dalam setiap jiwa orang kampung, mereka gemar tolong menolong, rajin bermusyawarah ketika ada suatu masalah dan menjadikan gotong royong sebagai landasan kehidupan bermasyarakat.

Kehidupan kampung inilah yang mengajariku mengenai rasa kebersamaan, dan rasa kebersamaan ini di implementasikan dari setiap permainan yang dilakukan seperti bermain kelereng, bermain kasti, sepakbola, berenang disungai menggunakan rakit gedebong pisang dan banyak lagi lainnya, Aku bersyukur aku diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk merasakan kehidupan kampung yang indah dan asri, thanks God.

Siang ini setelah pulang sekolah, aku berencana untuk mengunjungi rumah kakek Thariq dan Maryam. Entah mengapa bertemu dengan mereka dapat membangkitkan benih-benih semangat dalam diriku, apa lagi cerita dari kakek Thariq yang sangat ispiratif bisa menjadi bumbu-bumbu sakti nan mandraguna untuk menjalani hidup ini.

Aku berjalan santai menyusuri sungai cimatuk yang bersih dan indah, didalam sungai tersembur berhamparlah ikan-ikan kecil yang sedang mengais rejeki-rejeki yang telah ditebar oleh yang Maha Kuasa, dikiri-kanan aku terdapat hamparan pohon-pohon mahoni yang tumbuh subur, daunnya yang lebat menghalangi sinar matahari dan segarnya oksigen yang dihasilkannya dari fotosintesis menambah sensasi ketenangan dalam jiwa.

 

Selangkah demi selangkah kaki ini menapaki jalan setapak yang berhiaskan rerumputan hijau yang terlihat indah berhiaskan cahaya mentari, selama diperjalanan aku tak henti-hentinya memandangi indahnya panorama-panorama yang diciptakan oleh Tuhan kepada kita, bahkan rumput yang kita injak saja akan terlihat indah dan mengagumkan jika kita memperhatikannya secara detail mengenai fakta-fakta penciptaannya.

Tak terasa waktu berlalu secara perlahan dan membawaku kedepan pintu rumah kakek Thariq, disana aku disambut hangat oleh kakek Thariq dan Maryam, mereka menyambutku seakan-akan aku adalah orang jauh yang sedang bertamu kerumah mereka. Hari ini rencanaku datang kerumah kakek Thariq adalah mendengar kisah-kisah inspiratif yang menyejukkan hati dan tak lupa untuk bertemu dengan Maryam. Maryam pertama kali kukenal adalah gadis jutek yang jarang menebarkan senyuman kepada siapa saja tapi setelah bertemu kemarin dirumah, entah kenapa aku melihat perubahan drastis pada dirinya, dia ramah , lucu, wawasannya luas dan cantik. Meskipun dia adalah seorang cucu musisi jalanan yang berasal dari kampung tapi dari gestur dan gerak-geriknya serta penampilannya mencirikan kalau dia bukanlah seorang anak kampung yang kampungan, mungkin karena didikan kakek Thariq yang mengajarinya cara berpenampilan dan bertingkah laku, tapi satu hal yang membuatku aneh kakek Thariq kan buta jadi bagaimana dia mengajari Maryam berpenampilan ?. Itulah yang masih menjadi misteri saat ini.

Suguhan mereka padaku sangatlah sederhana dan tidak mewah hanya secangkir teh manis dan kue-kue kering dan itu semua cukup bagiku dan aku juga merasa sangat dihargai oleh mereka. Perbincangan kami diawali dengan pertanyaan kakek Thariq kepadaku mengenai sekolah dan aku menjawab baik-baik saja kemudian dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah kami mulai memasuki perbicangan-perbicangan mengenai sejarah-sejarah Islam dan ini yang kutunggu-tunggu.

Kulihat sekilas raut wajah Maryam, wajahnya yang cantik dan manis penasaran dengan cerita-cerita ispiratif kakek Thariq, tangannya yang mungil dan jarinya yang lentik dan indah saling meremas-remas menunggu kata-kata yang keluar dari mulut kakek Thariq, tak kalah dengan Maryam, aku pun sama dengannya hanya saja aku lebih tenang darinya mungkin karena aku seorang pria.

Kakek Thariq mulai bercerita kepada kami, kali ini dia akan menceritakan mengenai kisah Tsabit bin Ibrahim seorang musafir yang menemukan pendamping hidup karena sepotong apel. Sebelum menceritakan kisah Tsabit bin Ibrahim, kakek Thariq menyeruput cangkir kecil berisikan teh hangat, setelah setenguk dua tenguk teh diseruput kemudian kakek Thariq berdeham, dehamannya kali ini berat tapi halus.

Jaman dahulu Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat Sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang lezat itu. akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya.

Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya“. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku Khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”. Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.”

Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalan sehari semalam”. Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orang tua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata,” Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan ?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinanya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala“.

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam ,”Assalamu’alaikum…” Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi jadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu , dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya . Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini.

“Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, Kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya ? Setelah Tsabit duduk di samping istrinya , dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta . Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah“.

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?”

Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan ?” ungkap istrinya sebaliknya.

Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala“.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya… Subhanallah , dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”. Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Maka..Dialah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

Itulah bagaimana Tuhan mengajari kita arti dari kejujuran dan keikhlasan, jadi Jindan dan Maryam jangan sekali-kali pernah takut untuk berbuat baik karena setiap inci Tuhan selalu memperhatikan kita tanpa sedikitpun terlewat, Tuhan Maha Kuasa segala perbuatan pasti dibalas secara adil olehnya. Sebenarnya inti dari cerita kakek tadi adalah kita harus selalu mengingat Tuhan dalam keadaan apapun, karena sebaik-baiknya penolong adalah Allah SWT, kita lihat bagaimana Allah SWT menguji kejujuran Tsabit bin Ibrahim dan Tsabit pun lulus dari ujiannya, setelah dia lulus Allah SWT telah menyiapkan hadiah terbaik untuk Tsabit yaitu seorang wanita cantik yang shalihah dan dari cinta tersebut lahirlah seorang Imam besar bernama Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit yang memancarkan Ilmu dan hikmah keseluruh penjuru dunia.

Aku dan Maryam terhenyak mendengar cerita dan nasehat kakek Thariq benar-benar menginspirasi dan menumbuhkan gairah untuk berbuat lebih baik serta menjadikan ikhlas dan jujur sebagai landasan dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.

Hari semakin sore, aku berpamitan pulang kepada kakek Thariq dan Maryam serta menjanjikan akan membawa makanan yang enak jika berkunjung nanti, tapi ketika aku lagi berjalan menuju pulang kerumah, aku mendengar ada suara yang memanggilku dan ternyata itu Maryam. Maryam berlari terengah-engah menghampiriku, aku menyambutnya dengan senyuman lalu berkata

“Ada apa Maryam ?” tanyaku

“Hemmm Jindan nanti sore pas kamu pulang sekolah ketemuan di taman bundar yukk, aku ingin ngobrol-ngobrol sama kamu” kata Maryam

“Mau ngobrolin apa, kenapa gak dirumah kakek Thariq aja ?” tanyaku penasaran

“Udah pokoknya kesana aja ada hal penting yang aku ingin obrolin sama kamu” jawab Maryam

Kemudian Maryam pergi meninggalkanku sambil mengisyaratkan aku harus datang menemuinya besok ditaman bundar, entah apa yang ingin dia beritahu kepadaku yang pasti itu seseuatu yang penting. Aku pulang dengan perasaan semangat tetapi entah mengapa bayangan Maryam yang tadi menghampiriku tiba-tiba muncul mengingatkanku akan kenangan bersama Aysel dahulu, saat ia mengampiriku dan memberikanku gelang bertuliskan AYMI yang berartikan Aysel dan Fahmi, dengan mengingat itu aku kembali menjadi sedih, ingatan-ingatan yang seharusnya sudah kubuang kini kembali lagi kehadapanku, membayangi setiap gerak langkahku yang diliputi rasa rindu yang mendalam, mengingat Aysel mengingatkanku akan sebuah lagu yang berjudul nyanyian rindu.

Coba kau dengarkan lagu ini

Aku yan tertidur dan tengah bermimpi

Langit-langit kabar jadi penuh gambar

Wajah mu yang bening sejuk segar

Kapan lagi kita akan bertemu meski

Hanya sekilas kau tersenyum

Kapan lagi kita nyanyi bersama tatapanmu membasuh luka.

Sore ini langit terlihat cerah meskipun sedikit berawan, Mentari mulai kembali ketempat peristirahatannya, ingin rasanya aku pergi ke masa lalu dan betemu dengan Aysel, tapi itu semua tak bisa kulalukan yang bisa kulakukan sekarang adalah terus melangkah maju mengahadapi masa depan yang masih menjadi misteri dan menjadikan masa lalu sebagai guru terbaik untuk menghadapi masa depan.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s