Rejeki yang tak disangka

Rejeki yang tak disangka

Man Jadda Wajjada, kata-kata itu kembali terngiang di dalam kepalaku. Kata-kata yang pernah diucap oleh kakekku dulu sewaktu aku masih kecil. Man Jadda Wajjada, sebuah mantra sakti yang dapat membuat jiwa, raga dan semangatku bangkit dari jurang kemalasan. Aku bangkit dari kursi belajarku, kucuci mukaku dengan air kemudian aku teriakkan mantra ini dalam hati, “Man Jadda Wajjada”, Seperti terkena sihir, aku kembali kemeja belajarku dengan semangat, ku libas semua soal yang tadinya membuat semangatku melempem.

Setelah belajar, aku mendinginkan otakku yang panas dengan membaca buku-buku sejarah mengenai sahabat-sahabat nabi seperti Umar Bin Khatab, Khalid bin Walid, Abu Bakar as Shidiq dll. Dari semua sahabat nabi, yang paling aku suka adalah Umar bin Khatab. Umar bin Khatab bagiku adalah sebuah idola dan sosok pemimpin ideal untuk memimpin dunia saat ini, jika dibandingkan dengan pemimpin zaman sekarang, seperti Vladimir Putin, John F Kennedy, Soeharto bahkan Soekarno pun tidak bisa disandingkan dengan Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dikaki dan tangannya, jenggotnya yang lebat dan berwajah tampan. Beliau dibesarkan didalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum terkemuka dari suku Quraisy. Umar adalah salah satu sahabat dekat Rasullah SAW dan khalifah kedua setelah Abu Bakar, beliau temasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasullah SAW. Dijuluki Al-Faruq dikarenakan ketegasannya dalam menegakkan kebenaran, seorang yang keras namun berhati selembut salju. Dia merupakan pemimpin dan peletak landasan manajemen ekonomi negara yang cemerlang. Semenjak menjadi khalifah, dia hidup dalam kesederhanaan, meskipun kaya raya, beliau hendak memberikan contoh teladan yang baik bagi kaum muslimin mengenai konsep jabatan, harta dan zuhud seperti yang dicontohkan Rasullah SAW. Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan “sesungguhnya, sikapmu sangat memberatkan siapa pun khalifah pengganti mu kelak”. Subhanallah.

Setelah membaca biografi tentang Umar. Membuat aku sadar dan bertanya kepada diriku, “Apa yang sudah aku perbuat selama hidup ini?”, “apa saja yang sudah aku berikan kepada orang lain?” , “sudahkah aku membahagiakan orang tuaku?”. Pertanyaan- pertanyaan tersebut tiba-tiba lepas mengalir tanpa beban kedalam hatiku dan menjalar menuju otakku, jika dibandingkan dengan Umar aku bukanlah siapa-siapa, bahkan aku tidak layak untuk dibandingkan dengan dirinya. Kadang aku malu jika mengingat-ngingat apa yang telah aku perbuat selama ini. Aku menyesal. Aku pun bangkit dari kursiku, mengambil buku diariku dan mencatat besar-besar sebuah kalimat dalam buku diariku , “Aku ingin menjadi orang seperti Umar !!!!!”.

Angin malam berhembus dingin, menggerakkan ranting dan dedaunan kekanan dan kiri, malam ini bulan menampakan dirinya dengan cahayanya yang lembut dan teduh, dia menerangi langit yang hitam, bintang pun tak ingin kalah dengan bulan, dia pun memancarkan cahaya terangnya meskipun kecil. Malam ini seorang anak bermimpi ingin menjadi seperti sosok Umar bin Khattab, salah satu khalifah dan sahabat nabi Muhammad SAW, akankah mimpinya tersebut terkabul ?. Hanya waktu dan angin malam yang dinginlah yang akan menjawabnya.

Waktu menunjukan pukul 08.00 malam, “Bang makan dulu, udah mamah buatkan nasi goreng tuh ?” kata suara diseberang sana, “iya mah, nanti abang makan” jawabku singkat. Kututup buku diariku, sambil mengucapkan sebuah janji dalam hati. “Ya Allah ya tuhanku, jadikanlah aku orang yang sukes secara fisik dan mental agar aku bisa membantu saudara dan teman-temanku suatu hari nanti dan jadikanlah aku seperti Umar bin Khattab amin”.

Ku buka pintu kamarku, kulangkahkan kakiku menuju meja makan, hemmm bau aroma nasi goreng yang menggoda tercium oleh hidungku dan membuat air liurku meleleh. Ku sambar dan ku santap nasi goreng dengan lahap, tak sampai sepuluh menit nasi goreng di piringku sudah bersih tak tersisa. Disini aku sudah mempraktikan sebuah pepatah kuno yaitu “tuntaskan lah apa yang kamu mulai” dan hasil yang didapat adalah nasi gorengku habis tak tersisa.

Habis menyantap nasi goreng yang dibuat ibuku, aku kembali kekamarku dan bergelut lagi dengan buku-buku pelajaran, aku tidak akan menyianyiakan waktu meskipun sedetik untuk hal yang sia-sia. Aku juga selalu mengingat dan mengamalkan sebuah pepatah arab yaitu Man Yazra Yashud, siapa yang menanam dia yang akan menuai. Dari pepatah inilah, Aku selalu belajar keras dan selalu berbuat baik, agar kelak aku bisa menjadi orang sukses yang baik dan berguna bagi sesama manusia serta menjadi Insanul kamil.

Lelah bergelut dengan buku, kurasakan mataku mulai sayu layaknya lampu bohlam lima watt, kulirik jarum jam. Waktu menunjukan pukul 09.30 malam, tapi apa dikata mataku memberontak kepada tuannya, padahal masih banyak buku yang harus aku baca. Aku butuh istirahat. Aku rebahkan badanku diatas kasurku, aku tak pernah merasa senyaman ini. Tak butuh waktu lama dan dalam waktu singkat aku sudah hilang ditelan dunia mimpi.

 

 

 

 

 

Fajar menjelang, lantunan adzan subuh yang dibawakan muadzin terdengar nyaring hingga kekamarku. Aku bangun dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, burrrrrr, kubasuh mukaku dengan dinginnya air kamar mandi, ajaib rasa kantukku tiba-tiba hilang mungkin ini yang namanya the miracle of wudhu. Subhanallah. Aku laksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid dekat rumahku, setelah selesai sholat aku berdoa kepada sang pencipta ”ya Allah ya Tuhanku maafkanlah semua kesalahanku, jadikanlah aku orang yang lebih baik dari kemarin dan sukseskanlah jalanku menuju kesuksesan amin”.

Aku pulang kerumah sehabis sholat subuh berjamaah, kutanggalkan sarungku dan kuganti dengan celana training. Aku akan lari pagi. Lari pagi adalah rutinitasku yang aku kerjakan setiap hari selain belajar. Selain memperluas ilmu dengan membaca, aku juga tidak lupa untuk menjaga fisikku agar tetap bugar. Disini aku juga mengamalkan sebuah pribahasa kuno yaitu jiwa dan pikiran yang sehat berasal dari fisik yang sehat.

Sehabis olahraga aku lemaskan otot-ototku yang regang sambil berjalan santai mengelilingi daerah sekitar rumahku. Saat aku berjalan dan memandangi pohon-pohon dan mendengar kicauan burung, membuat aku teringat akan nasihat-nasihat yang ayah berikan kepadaku. Beliau memberikan banyak nasihat singkat, tapi penuh syarat dan makna, salah satu nasehatnya yaitu “Hidup sehat, banyak rezeki dan dicintai oleh Allah SWT dan seluruh mahluk hidup adalah sebuah pilihan bagi orang yang mengerti. Allah yang mahakuasa telah memberikan kita nyawa, jasad, akal, pikiran dan kebebasan kepada kita untuk mengikuti mana yang benar dan mana yang salah, tetapi terkadang manusia buta akan nafsu mereka, sehingga mereka sering sekali jatuh pada lembah kehinaan. Untuk bisa mewujudkan itu semua hanya bisa dilakukan jika kita telah membiasakan diri dalam melakukan empat hal yaitu bicara yang jujur, jangan memakan sesuatu yang haram, berbuat baiklah kepada sesama mahluk hidup dan bekerja keraslah niscaya semua impianmu akan terwujud”.

Nasihat itu aku dapatkan saat aku sedang berdiskusi empat mata dengan beliau. Nasihat yang singkat tapi menusuk kalbu, simpel tetapi rumit, hanya dengan empat hal kita bisa menjadi orang yang sukses lahir dan batin. Tapi bagiku, melakukan salah satunya saja sangat sulit, kita bisa ambil contoh mengenai salah satu syaratnya yaitu bicara yang jujur, jika dingat-ingat berapa banyak kebohongan-kebohongan yang kita lakukan dalam sehari ?. Hanya dengan pertanyaan sederhana seperti itu saja, maka kita akan terdiam seribu bahasa. Mungkin empat syarat itu tidak dapat dilakukan dengan cara yang instant dan mudah, tetapi harus dilakukan dengan cara membiasakan diri dalam melaksanakannya.

Pagi ini aku berangkat sekolah dengan semangat yang membara layaknya pejuang tahun 45, dikarenakan kombinasi dari keinginan menjadi seperti Umar bin Khatab, nasehat ayahku dan mantra Man Jadda Wajjada. Aku berjalan menuju sekolah, ku hirup segarnya udara pagi yang berasal dari pepohonan dan kurasakan hangatnya sinar mentari yang menerangi pagi ini. Perlahan tapi pasti aku tiba disekolah, kulihat Teh Karnati, Bi Rame dan Mak Jue sudah siap dengan masing-masing dagangannya, Teh Karnati sibuk dengan centong uduknya, Bi Rame sibuk dengan jajanannya dan Mak Jue sibuk dengan ikan hiasnya. Kubuka pintu kelas, seperti biasa jantungku berdegup kencang saat melihat Aysel sedang membaca buku, mendengar suara langkahku dia pun tersenyum sambil menyapa.

Hei Jindan”

“Hei juga, wahhh lagi baca apa nih?” Tanyaku dengan malu-malu.

“Lagi baca novel nih” jawabnya singkat dengan senyum kecil dibibirnya.

“Novel apa ?” Tanyaku dengan penasaran

“Kitab Cinta Yusuf dan Zulaikha” jawabnya

Memang menarik gadis ini, selain pintar dan lancar berbahasa inggris dia juga gemar membaca sama seperti aku, tapi sayangnya genre bacaan kami berbeda, dia menyukai novel romance dan aku menyukai buku-buku mengenai konspirasi dan kisah tokoh-tokoh sukses.

“Udah makan belum?”

“Udah tadi dirumah”

“Aku pergi kekantin dulu yakkk”

“Oh iya, hati-hati ya”

Aku pergi kekantin dan menuju tempat langgananku Uduk Karnati, salah satu uduk legendaris, terkenal dan satu-satunya disekolahku, karena disanalah tempat aku mengeyangkan perutku jika aku tidak sempat sarapan dirumah atau jika ibuku tidak memasak. Bau nasi uduk yang mengepul tercium oleh hidungku, membuat gairah makanku semakin menjadi-jadi. Sepiring nasi uduk telah tersedia di depanku dengan hiasan tempe orek dan irisan telur dadar membuatnya terlihat semakin indah dan lezat untuk disantap.

Seperti biasa kusantap nasi uduk legendaris ini dengan lahap, singkat saja tak terasa nasi uduk sudah bersih dipiringku. Disini aku menyadari aku mempunyai salah satu bakat unik yaitu aku dapat makan lebih cepat dari orang biasa. Aku kembali ke kelas, kulihat Erlan dan Dian sudah tiba dikelas sambil sibuk dengan kartu Yu Gi Oh ditangannya.

“Aku korbankan Kuribo dan kupanggil Summon skull dalam posisi menyerang” kata Dian

“Aktifkan Traphole “ kata Erlan sambil menunjukan kartu Trapnya

“Tidak Summon Skull ku, tidak akan kubiarkan ini terjadi. Aktifkan kartu spell Back to the Past”

Melihat antusias permainan mereka. Aku dan teman sekelasku terutama laki-laki mengerubungi mereka dan menyorakinya. Aku pergi ke mejaku dan ku ambil seperangkat deck berisi kartu Yu Gi Oh koleksiku.

“Woy nanti yang menang lawan gua” tantangku terhadap mereka berdua. Mereka berdua mengacuhkanku dan hanya berfokus kepada kartu yang berada ditangan mereka. Sial. “Woy gua punya kartu The God Of Ossiris loh, salah satu kartu dewa” teriakku, seketika semua mata tertuju kepadaku.

“Yang bener lu Dan ?” tanya Nuryana.

“Liat aja” tantangku.

“Wah bener sia, si Jindan punya kartu dewa” kata Nuryana.

“Hebat lu Dan” puji Ridwan.

“Aku dapat kartu ini, karena menang melawan Game Master di Jakarta” jawabku dengan penuh kebohongan.

“Gila jago bangetlu, tolong ajarkan aku master cara berduel yang baik” pinta Mustofa.

“Tapi tidak gratis” jawabku. Aku dipanggil master.

“Tak apa, aku sanggup membayarnya” kata Mustofa dengan suara yang lantang.

“Baik” jawabku singkat.

Di akhir permainan, Erlanlah yang memenangkan pertandingan duel tersebut dan dialah orang yang menjadi lawanku nanti. “Panggilan untuk Jindan Fahmi, Erlan Sabda. P dan Ferdiansyah Oktavianto, ditunggu orangtua kalian di Ruang BK sekarang juga” suara nyaring dan keras dari speaker membuat kami bertiga saling bertatapan satu sama lain. Kami panik. Mendengar suara dari nyaring dari pengeras suara, juga membuat seluruh teman kelasku serempak menengok kearah kami dengan tatapan kebingungan. “Yang sabar ya kalian” kata Jumadi sambil memberi semangat, kami hanya bisa mengangguk lemah. Kami pasrah. Kami bertiga berjalan dengan gontai menuju ruang BK, sesampai disana aku melihat ayahku tersenyum kepadaku, tapi yang kutahu itu bukan senyum bahagianya melainkan senyum kecewanya.

Ayahku melirikku, sedetik kemudian dia berdeham “bang sini” perintah ayahku dengan suara baritonnya yang mengandung marwah seorang ayah, “tadi pak Abay, sudah ceritakan semua tentang masalah ini. Jangan diulangi lagi yak” pintanya, Aku hanya bisa mengangguk lemah. Semangatku yang menderu-deru tiba-tiba pudar akibat suara SPEAKER SEKOLAH. Speaker sekolah menghianatiku. Aku kembali kekelas dengan perasaan galau, mungkin karena senang sekaligus sedih. Campur aduk. Senang karena aku terbebas dari masalah ini dan sedih karena melihat senyum ayahku tadi. Kutarik kursi dari mejaku, ku hela napasku husssh, Aysel menatapku dengan tatapan prihatin. “Dan, tadi gimana ?” tanyanya.

“Alhamdullilah, udah selesai” jawabku dengan lemas.

“Tapi kok lesu banget ?” tanyanya balik.

“Iya kayanya gak enak badan nih” jawabku sambil berkilah.

Pak Abay kembali kekelas, langkah kakinya yang seperti suara guntur membuat kami sekelas waswas terkecuali aku. Aku sudah tidak peduli dengan suaranya langkah kakinya yang menyeramkan, aku juga tidak peduli dengan matanya yang tajam layaknya elang dan aku juga tidak peduli dengan mukanya yang sangar, yang aku pedulikan adalah bagaimana nasibku dirumah nanti. “Anak-anak, sekolah kita akan mengikuti Lomba bidang studi sekabupaten, maka dari itu bapak akan memilih beberapa diantara kalian untuk mengikuti perlombaan tersebut” kata pak Abay. Mendengar kalimat PERLOMBAAN, selalu membuatku semangat entah kenapa tiba-tiba darahku bergejolak dan sangat ingin meraih kemenangan, mungkin ini yang namanya semangat muda.

“ Erlan Sabda Prasetio dan Muhammad Nuryana, mewakilkan sekolah untuk lomba Matematika.” Kulihat muka Erlan dan Nuryana berseri-seri, Erlan dan Nuryana saling berpelukan seakan-akan mereka mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.

“Anggi Nadiah dan Denda Novita Sari, mewakilkan sekolah untuk lomba Bahasa Indonesia.” Muka Anggi terlihat begitu senang sedangkan Denda sebaliknya.

“Ferdiansyah Oktavianto dan Siti Holipah, mewakilkan sekolah untuk lomba Bahasa Inggris.” Waw Dian mengikuti lomba bidang studi, syukurlah. Kataku dalam hati.

“Jindan Fahmi dan Aysel Al Safitri, mewakilkan sekolah untuk lomba Sains.” Ups, aku bersama Aysel, apa tidak salah dengar ?. Kulirik Aysel dia tersenyum kepadaku dan berkata ”Jindan nanti kita belajar bareng ya”. OMG, Tuhan dari sekian banyak hari yang aku syukuri, hari inilah hari yang tak akan kulupakan. Thanks God, I will not forget about your gift today.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s