Panik

Panik

Pagi yang cerah. Matahari mulai menyembul keluar dari persembunyiannya. Ayam berkokok burung berkicau saling bersahutan. Angin dingin pegunungan berhembus dari puncak ke lembah. Tanah dan rerumputan basah di selimuti embun akibat proses kondensasi alam. Itu lah suasana desaku di pagi ini.

Desa Jagabaya adalah desa kecil jauh diujung sana. Letaknya di kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa Jagabaya memiliki keanekaragaman fauna dan flora serta sumberdaya alamnya, mata pencarian penduduk desa Jagabaya adalah petani dan kuli batu. Meskipun daerah kami penghasil batu dan pasir terbesar di kabupaten Bogor tetapi pendapatan perkapita masyarakatnya sangat rendah sekali.

Aku tinggal di desa ini sejak kelas dua SD, aku bukan merupakan penduduk asli desa Jagabaya aku merupakan imigran dari Jakarta dan menetap disini. Ayahku bekerja sebagai guru privat di kawasan Jakarta dan ibuku bekerja sebagai pedagang sembako dirumah. Banyak sekali pengalaman-pengalaman hidup yang aku rasakan semenjak aku tumbuh didesa ini, berbagai pengalaman telah aku coba seperti bercocok tanam, berternak dan berdagang yang merupakan bekalku untuk mencapai mimpi-mimpi suksesku suatu hari nanti.

“bang ……. “ panggil seorang wanita dari depan pintu kamarku , mendengar suara ibuku memanggilku aku segera menghampirinya. “Ada apa mah?” tanyaku, “abang Jindan mau berangkat sekolah kapan? sekarang sudah jam 06.00 pagi nih, cepet mandi sana” suruh ibuku dengan suara soprannya. Aku pergi kekamar mandi dengan malas, kugantungkan handuk dan mulai ku tanggalkan pakainku. Jebarrrrr jeburrrrrr suara air dalam kamar mandi terdengar riuh hingga keluar, membuat adikku kesal, dia gedor pintu kamar mandi sambil mengeluarkan suara “santai dong mandinya”. Mendengar suara marah adikku, aku perlambat frekuensi guyuranku.

Jam dinding menunjukan pukul 06.45, mataku tajam kulihat sekelilingku, mataku tertuju pada satu tempat. Meja makan. Ya meja makan merupakan tempat untuk aku mengisi perutku yang selalu memberontak dipagi hari, siang hari dan malam hari. Kulihat menu pagi ini yaitu nasi goreng. Nasi goreng buatan ibuku bisa dibilang sekelas dengan nasi goreng restauran mahal, bayangkan saja hanya dengan irisan bawang putih, bawang merah, cabe hijau, gula dan garam jadilah nasi goreng kelas restauran, membayangkannya saja membuat air liurku meleleh dan jakunku turun naik.

Kusantap nasi goreng dengan lahap tak sampai lima menit nasi goreng sudah lenyap dari piringku, inginku tambah lagi nasi goreng aku urungkan niatku, “bagaimana nasib perut ayah, ibu serta adikku?”. Waktu berlalu sangat cepat menunjukan pukul 07.00 pagi, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk pergi sekolah. ”Mamah, abang berangkat dulu yak” sambil ku lambaikan tanganku. Aku melawati jalan setapak dan hamparan sawah untuk pergi kesekolahku, butuh sebuah keahlian untuk melewati jalan setapak ini, lengah sedikit saja kau akan jatuh kedalam kobangan lumpur.

Sepanjang perjalanan aku melihat beberapa orang petani sedang membajak sawah dengan traktor maupun kerbau, kulihat juga ibu-ibu meneteng bakul berisi sayuran dengan kepalanya. “brak” kurasakan hantaman tangan mengenaiku, kulihat kebelakang ternyata temanku menepukku dengan keras, aku segera membalasnya dengan tendangan dia mengelak, tendanganku hanya mengenai angin. Sedih.

“Ngapain sih mukul keras gitu sakit tau?” tanyaku sambil mengelus punggung, “najis gitu aja sakit dasar lemah” kata temanku Dian, Erlan temanku segera melerai kami ketika melihat urat leherku naik dia berusaha menenangkan ku, “udah jangan berantem nanti dimarahin pak guru Abay” kata Erlan, mendengar nama pak guru Abay nyaliku akhirnya ciut juga, kulihat mata Dian surut layu seperti tertekan, gertakan Erlan kali ini berhasil.

Baru saja tiba disekolah, kami bertiga melihat pintu kelas sudah ditutup. Kami panik. Dian dengan siaga mengomandoi kami untuk mengintip melihat dari luar jendela kelas. Erlan dan aku bak mata-mata dalam film Mission Imposible langsung mengintip dari jendela dengan hati-hati dan waspada, kulihat pak Abay sedang menerangkan pelajaran, matanya yang tajam memandangi muridnya satu-persatu sedetik kemudian dia menggaruk kepala dan menghitung jumlah siswanya. Dia pun bertanya “siapa yang tidak hadir ?”. Jindan Fahmi, Erlan Sabda. P dan Ferdiansyah Oktavianto teriak kompak kawanku dalam kelas disertai tawa jahat. “Dasar teman brengsek “ umpat kami dalam hati.

Jantung kami berdetak semakin tidak teratur, napas kami memburu seperti orang terjangkit asma mendadak. “aaahhh i have some great idea” kata Dian dengan suara logat britishnya yang pelan. “Sejak kapan dia bisa berbahasa inggris ?” tanyaku dalam hati, Dian langsung mengutarakan ide brillian yang dia punya kepada kami. “Jadi gini aku nanti pura-pura sakit, kalian pura-pura membopongku kemudian kita masuk kelas secara mendadak dan panik, lalu kamu berdua bilang ke pak Abay bahwa aku pingsan ditengah jalan, mungkin kita tidak akan terkena hukuman”. Kami menganguk setuju tapi aku langsung bertanya,” lalu apa tugas kau Dian?”. Dia menjawab “aku pura-pura pingsan”, lah enak banget lu cuman pingsan” kata Erlan, “ini ide ku” jawab Dian singkat. Kami berdua langsung menatapnya. Dasar licik.

“Toook tooook tokkkk” mendengar bunyi pintu kelas di ketuk. Pak Abay memerintahkan ketua kelas kami Fitri untuk membuka pintu. ”Aaaaaaa Jindan, Erlan dan Dian kenapa baru datang?” pertanyaan tak bermutu keluar dari mulut Fitri. “Ini tolong si Dian tadi pingsan ditengah jalan, kami terlambat gara-gara membopongnya” kata kami berdua. Mission sucsess. Melihat kami membopong Dian pak Abay langsung menghampiri kami, dia mengomandoi kami untuk menurunkannya secara perlahan. Dia pun langsung bertanya kepada kami berdua, “kok bisa Dian pingsan kenapa?” tanya pak Abay penuh selidik, kami berdua menggelengkan kepala, dengan sigap Fitri mengambil kotak P3K dan mengeluarkan minyak kayu putih untuk menghangatkan badan Dian. Merasa perutnya disentuh oleh Fitri yang bukan muhrim membuat Dian cengengesan menahan geli. Mission failed.

“Lah kok malah ketawa?”tanya Fitri kebingungan. Sial mati kita. Aku dan Erlan saling bertatapan mengingatkan satu sama lain, kami sedang dalam bahaya. “Diaaaaannnn, Jindannn, Erlannnn” teriak pak Abay dengan suara baritonnya yang menggema, mendengar suara pak Abay yang keras dan menggelegar membuat kami seisi kelas ciut. “Kalian bertiga masih SMP sudah berani berbohong, apa kalian tidak malu?” tanya pak Abay. Kulirik Dian, dia masih pura-pura pingsan tetapi raut mukanya terlihat ketakutan, kulirik muka Erlan tampak pucat pasi, tangannya bergetar tak henti-henti seakan-akan dia sedang dituduh korupsi sedangkan aku diam memejamkan mata menahan perutku yang mulas.

Kami bertiga disuruh menghadap ke bagian guru BK, disana sudah menunggu tiga orang yang merupakan founding father SMP kami yaitu bu Een, pak Abay dan bu Tien. “Silakan duduk kata mereka bertiga serempak”.Kompak sekali. “Kalian tahu kesalahan kalian?” Tanya bu Tien sebagai kepala sekolah, “tahu bu jawab kami dengan takut”, “kenapa kalian memobohongi saya?” tanya pak Abay. “Mohon maaf sebesar-besarnya pak bu, tidak ada sedikitpun niat kami untuk membohongi kalian, kami terpaksa melakukan ini gara-gara kami telat, kami telat juga karena ada alasannya, kami telat karena membatu orang tua.” Jawabku. Erlan dan Dian tak menyangka kalimat rapi dan sopan ini bisa keluar dari mulutku. “Saya ingin tanya apa pekerjaan orang tua kalian masing-masing?” tanya bu Een. “Orang tua saya bekerja sebagai penjual sembako jawabku, jadi saya harus membantu membuka warung setiap pagi” jawabku dengan tenang. Padahal tidak. Erlan dan Dian juga mengeluarkan berbagai macam alasan yang dibuat-buat, setelah menjalani sidang dengan para founding father ini kami akhirnya diberi ampunan dan surat peringatan.

Kami keluar dari ruang interogasi dengan kaki dan lutut gemetar, aku dan dua temanku mengucapkan hamdalah tak henti-hentinya. Teman-teman kami di kelas menunggu kami bukan karena kasihan tapi karena ingin mendengar cerita kami. Sungguh teman tak beradab. “Eh tadi ditanya apa saja disana?” tanya Denda dan Anggi, kami hanya tersenyum masam melirik satu sama lain dan menghela napas hussssh, cuman ditanya “kenapa melakukan itu?” ,cuman itu doang kata kami bertiga. “Ohhhh enak atuh kirain dapat surat peringatan” kata Denda, “emang kenapa kalau dapat surat peringatan?” tanyaku pada Anggi dan Denda, “yah kalau dapat surat peringatan, berarti orang tua lu dipanggil kata Anggi santai. Mendengar suara Anggi yang santai dan ringan, langit seakan runtuh diatas kami. “Orang tua kami dipanggil?” kami bertiga panik. Kami pun membuka surat peringatan yang diberikan kepada kami dan melihat sebuat kalimat besar “KAMI TUNGGU ORANG TUA KALIAN LUSA JAM 08.00 PAGI”. Panik tingkat tinggi.

Trenggggggggg bel istirahat berbunyi, seluruh murid menghambur ke kantin, mendengar suara bel istirahat berbunyi semua temanku berteriak gembira kecuali kami bertiga. Kami sepakat untuk tidak pergi kekantin, kami akan mendiskusikan masalah penting ini karena menyangkut orangtua kami. Dian segera membuka percakapan ”teman-temanku yang malang kita harus menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini, aku punya sebuah ide” aku dan Erlan menjawab dengan malas ” ide apa”? tanya kami berdua, “bagaimana kalau kita sewa orang lain saja untuk pura-pura menjadi wali kita” aku kaget tidak habis pikir bagaimana bisa anak kelas 3SMP sudah punya pikiran selicik ini. Dasar mafia. Erlan dan aku manggut-manggut setuju tapi ketika kami sudah menemukan jalan keluar selalu ada masalah yang menghampiri, “kan guru-guru kenal orang tua kita, bagaimana mereka bisa percaya jika kita menyewa orang lain?” tanyaku. “Ckckckck jari telunjuknya bergerak kekanan dan kekiri sambil berkata “kamu memang bodoh Jindan”, mendengar kata bodoh, kuping dan darahku memanas, “andai saja kalau aku tidak terdesak dan meminta bantuan serta nasehatnya, mungkin anak ini sudah ku bakar” kata ku dalam hati.

Kami pulang dengan gontai dan lemah, mengingat muka ibu ku dan ayahku yang marah membuat aku bergidik ngeri. Hari ini dunia seakan- akan kelam tak berwarna, orang-orang sekitar melihat kami berjalan lemas merasa prihatin. “Nak kalian tidak apa-apa?” tanya nenek Rahmi seorang pedagang sayur yang menghampiri kami, “tidak apa-apa nek” jawab kami serempak, “tapi kalian lemes banget, nih ada kerupuk buat kalian sisa dagang sayur” kata nenek Rahmi sambil menyodorkan kerupuk, ” makasih nek tapi gak usah” kataku tapi dua orang temanku tidak peduli mereka menerima kerupuk dengan senang hati. Dasar tidak tahu diri. Hari itu kami pulang sambil memakan kerupuk bersama, mungkin hari ini hari yang sial tapi hari ini juga merupakan berkah karena nenek Rahmi memberi kami kerupuk kataku dalam hati.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s