Konspirasi dan Teman baru yang berkilau

Konspirasi dan Teman baru yang berkilau

Tiba dirumah aku disambut ibuku dengan ramah, ibuku menanyaiku kabar tentang bagaimana disekolah tadi. “Bang, bagaimana tadi disekolah?” tanya ibuku dengan senyumnya yang lebar, “hahh baik mah” jawabku dengan malas. Melihat tingkahku yang berbeda dari biasanya, ibu ku merasa heran dia menatapku lekat-lekat, aku tak berani membalas tatapannya. “Bener gak ada masalah nih?” tanya ibuku lagi. Aku semakin tersudut ketika ibuku menanyakan pertanyaan tersebut, “Hemm mah boleh cerita sesuatu gak?” tanya ku dengan takut.

Seorang ibu pasti akan merasakan keanehan pada anaknya jika anaknya mengalami sebuah masalah. Mungkin ini yang dinamakan naluri keibuan. “Mau cerita apa?” tanya ibuku lemah lembut, “Mah tadi abang dipanggil ke ruang BK, karena tadi abang ngebohongin pak Abay?” kataku. “HAAAAH?”, kulihat muka ibuku shock melihat anak laki-lakinya yang polos membuat masalah di sekolah, sampai di panggil keruangan BK segala.

“Kok bisa sih ?, coba ceritakan yang jelas” pinta ibuku, “jadi gini mah abang sama Erlan dan Dian tadi terlambat masuk sekolah, kemudian abang sama mereka ngerencanain untuk pura-pura menolong Dian yang pura-pura pingsan biar gak kena marah, terus akhirnya ketahuan sama pak guru, kalau kami bertiga pura-pura, agar tidak dimarahi saat masuk ke kelas” jawabku. Ibuku menepuk kepalanya tiga kali, mungkin dia pusing, urusan rumah saja belum selesai sekarang ditambah lagi masalahku dengan sekolah. “Terus orang tua di panggil sekolah?” tanya ibuku lagi, “iya mah” jawabku dengan suara setipis kertas, “yaudah abang sekarang makan istirahat kemudian tidur siang, nanti kita bicarakan masalah ini setelah ayah pulang.”

Mendengar kalimat “KITA BICARAKAN MASALAH INI SETELAH AYAH PULANG” membuat ku bergidik ngeri, membayangkan apa yang akan ayah lakukan terhadapku, memarahi, menasehati atau jangan-jangan menghukumku. Semoga hanya menasehati doaku dalam hati. Menjelang isya sekitar pukul 19.00 ayahku tiba dirumah, mukanya yang lelah dan kusut sehabis pulang mengajar dari rumah anak didiknya membuatku waswas, aku berharap ibu tidak akan membicarakan masalah tadi hari ini. Melihat ayah pulang ibuku dengan siaga menyiapkan makanan malam dan teh hangat. “Yah mandi dulu sana terus makan, udah aku masakin kentang balado kesukaan ayah” kata ibuku dengan senyum terbaiknya, “iya mah makasihya waduh kentang balado enak nih” jawab ayahku, dengan senyum yang tak kalah dari ibu. Ayah tersenyum.

Ayah makan dengan lahap sekali, mulutnya tak berhenti mengunyah seakan-akan ini adalah makanan terakhirnya. “Ehhhmmm” ibu ku berdeham, aku dan ayahku langsung melirik ibu, kulihat dari bahasa tubuhnya sepertinya dia akan memberitahu ayah tentang masalahku tadi.”Yah tadi Jindan ada masalah disekolah sama guru sampai dipanggil diruang BK” katanya dengan suara soprannya yang tinggi. Sudah kuduga, mati aku. Ayah dan aku saling bertatapan, tetapi tatapan ku kalah kuat dengan matanya yang tajam, aku hanya bisa menunduk. “Masalah apa mah?” tanya ayahku selidik, “tadi dia terlambat kesekolah sama si Dian dan Erlan kemudian pura-puran ngebohong dengan cara menolong Dian yang pura-pura pingsan, biar gak kena marah pak guru, terus tar lusa ayah dipanggil kesekolah” tambah ibu. Aku hanya bisa tersenyum getir, aku sangat menyesal telah membuat konspirasi seperti itu, mungkin ini adalah balasan karena aku terlibat konspirasi itu. “Ya Allah bantulah hambamu yang bersalah ini” doaku dalam hati. Ayahku berdeham, dia seruput air putih lalu berkata” hemmm gitu toh masalahnya, kirain masalah apa” . Mendengar kalimat ” hemmm gitu toh masalahnya, kirain masalah apa” membuat ku syok. Ini keajaiban, ayah tidak marah.

“Nanti ayah akan kesekolah lusa, jam berapa bang?” tanya ayahku, “jam 8.00 yah” jawabku dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar. Aku pergi ke kamarku dengan rasa heran campur senang dan curiga, “kenapa ayah tidak marahya?” tanyaku dalam hati. Mungkin dia menang togel, tidak ayahku tidak main judi, mungkin dia punya wanita simpanan yang baru, tidak ayahku bukan hidung belang atau jangan-jangan dia gajian. Hemmm Gajian. Aku cari kalender kamarku, kubuka perlahan-lahan kulihat dan kutunjuk angka-angka yang berbaris rapih berdasarkan hari dan bulan, tiba-tiba telunjukku berhenti pada angka 28 Februari 2003. Pantas saja ayah tidak marah.

Pagi itu kulihat matahari tak secerah biasanya, cahayanya yang terang menyinari dunia disambut oleh milyaran mahluk hidup di dunia tak terkecuali manusia. Mataku sibuk memperhatikan langit yang cerah ini, kadang kala aku berfikir apa jadinya jika matahari tak pernah ada?, Mungkin seluruh populasi mahluk hidup di dunia akan musnah, aku pernah membaca sebuah artikel mengenai meletusnya sebuah gunung purba yaitu gunung Toba, gunung Toba adalah salah satu gunung super volcano, diceritakan dalam artikel tersebut hanya dengan abunya saja langit di seluruh dunia tertutup oleh kegelapan akibat sinar yang terhalangi oleh abu. Efek dari letusan gunung Toba ini hampir saja memusnahkan setengah populasi mahluk hidup di bumi.

Aku berangkat sekolah dengan senyum yang lebar, semua masalah tentang konspirasiku sudah kuberitahukan pada orang tuaku dan mereka tidak memarahiku. Ajaib. Padahal tadinya aku berprasangka bahwa orang tuaku terutama ayahku akan menghukumku tapi ternyata tidak, aku diselamatkan oleh tanggal akhir. Mungkin ini yang namanya miracle of the last day in month.

Aku berjalan menyisiri sawah yang terbentang di sepanjang perjalanan kulihat seluruh tanaman bergerak pasrah kekanan dan kiri di tiup oleh hembusan angin pagi, perlahan tapi pasti aku hampir tiba disekolah, kulirik jam tanganku 07.00 pagi, tak akan ku biarkan aku masuk ke ruang BK dua kali. Aku bukan keledai. Ketika aku masuk kedalam kelas kulihat seorang anak perempuan seumuran denganku tapi aku tak mengenali wajahnya, dia tampak asyik membaca buku. Mungkin kaget mendengar suara langkah kakiku, sekilas dia menatapku dengan terseyum ketika masuk kelas. Hanya satu detik, tapi senyumnya mampu membuat jantungku berdetak tidak karuan, ingin sekali ku menyapanya tapi aku malu. Mau tapi malu. Aku urungkan niatku untuk menyapanya, setelah meletakkan tas dikursi aku segera pergi dari kelas menuju kantin. “Teh Karnati, uduk dong siji” pintaku pada teh Karnati yang merupakan penjual uduk legendaris sekolah kami, dengan sigap teh Karnati menyiapkan uduk. “Nih uduknya Jindan” kata teh Karnati sambil menyuguhkan piring berisi nasi uduk. Hemmm bau khas nasi uduk yang mengepul membuat jakunku turun naik.

Kusantap nasi udukku dengan lahap, kali ini aku tak ingin sarapan di rumah mengingat kejadian kemarin. Aku harus berangkat pagi. Setelah selesai menyantap nasi uduk, pikiranku kembali pada gadis dikelas tadi, siapa dia ?, aku tidak mengenal wajahnya apa mungkin dia salah kelas, tidak mungkin, jangan-jangan dia anak baru. Aku kembali kekelas kulihat gadis tadi sedang berbicara dengan Denda yang berada disampingnya, mendengar suara langkah kaki ku mereka berdua menengok kearahku, “tumben lu Dan datang pagi” kata Denda dengan suara setengah kaget, “gua telat juga karena ada alasannya, gara-gara bantuin orangtua” jawabku defensif, “oh ya Dan kenalin ini temen baru kita dikelas ini namanya Aysel, dia temen gua kecil loh di Bandung” kata Denda sambil menepuk pundak Aysel. Aysel, indah juga namanya. “Aku Aysel, pindahan dari SMP 01 Bandung salam kenal” kata Aysel dengan suaranya yang lembut. “Oh ya, aku Jindan semoga betah ya di kelas ini” kataku dengan malu-malu.

Waktu menunjukan pukul 07.30, ku lihat dari luar jendela kedua temanku Erlan dan Dian berlari seperti di kejar anjing. “Yes akhirnya sampai juga” kata mereka berdua sambil mengepalkan tangan ke atas. “Huuuu masih datang siang aja” kataku sambil mengejek mereka berdua, “yang penting kami tidak telat hahaha” jawab Dian sambil tertawa.

Treeeeeeeng, bel sekolah berbunyi. Ku dengar suara langkah kaki dari seberang kelas, tiap suara langkahnya mencekam dan membuat bulu kuduk merinding. “Ini suara langkah kaki pak Abay” kata Mustofa teman disebelahku yang panik. Kulihat sosok tinggi tegap sedang berdiri di depan pintu kelas, matanya yang tajam seperti elang sedang memperhatikan kami satu persatu, tiba-tiba sekilas terbersit senyum dari wajahnya. “Pak Abay tersenyum, kok bisa yah ?” tanya Dian sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Selamat pagi anak-anak” salam pak Abay dengan suara baritonnya yang menggema, “hari ini bapak ingin memperkenalkan murid baru di sekolah ini” kata pak Abay sambil melirik dan menyuruh Aysel untuk berdiri kedepan.

“Nama saya Aysel al Fitri, umur saya 14 th, saya tinggal di Griya Selaras Baru Blok A7 No 26, ayah saya bekerja sebagai pegawai bank di sebuah bank swasta dan ibu saya bekerja sebagai ibu rumah tangga, saya anak kedua dari tiga bersaudara, saya menguasai bahasa inggris dan saya pernah memenangi perlombaan sains tingkat provinsi ”. Singkat jelas dan padat, semua informasi lengkap ini tersusun dalam kalimat yang diucap secara tegas, sopan, lembut dan berwawasan. Pokkkkpokkkk tepuk tangan riuh dikelasku, sementara teman-teman sedang sibuk bertepuk tangan, aku sibuk dengan pulpen dan bukuku, disana aku menulis sebuah kalimat besar-besar di buku tulisku Griya Selaras Baru Blok A7 No 26. Aku akan main kesana suatu hari nanti, tunggu saja Aysel !!!.

“Cakep juga ya” kata temanku Sopyan, “keturunan Arab sih, mancung pula hidungnya” celetuk temanku Jumadi. Cakep, pintar dan fasih berbahasa inggris adalah kombinasi yang luar biasa bagi seorang gadis seumurannya. “Ada yang ingin ditanyakan kepada Aysel ?” tanya pak Abay, serempak laki-laki di kelas mengacungkan tangan tak terkecuali aku, melihat antusias bertanya kami para keturunan Adam membuat pak Abay bingung, akhirnya dia membuat sayembara.

“Wow banyak sekali yang ingin bertanya, bapak senang kalian ingin mengenal Aysel lebih jauh tapi dari sekian banyak bapak akan memilih satu orang saja untuk bertanya dan bapak akan memilihnya berdasarkan, siapa yang dapat menjawab pertanyaan dari bapak, akan boleh bertanya kepada Aysel” jelas pak Abay. Kami semua memasang telinga baik-baik terutama laki-laki. “Siapa nama presiden pertama negara Amerika Serikat ?” tanya pak Abay, kulihat teman-temanku mengeryitkan dahi, mereka tak menyangka pertanyaan semacam ini bisa terlontar dari mulut pak Abay.

Aku mencoba mengingat-ngingat kembali buku Ensiklopedia yang pernah aku baca, “kalau gak salah huruf depannya G” bisikku dalam hati, tiba-tiba teman depanku Dian mengacungkan tangan. Kami semua tertunduk lesu. “Ir. Soekarno pak” jawab Dian dengan keras, aku tidak tahu dia bercanda atau tidak, tapi ini keterlaluan. Pak Abay di depan kelas memijit-mijit keningnya, semua temanku ternganga-nganga sedetik kemudian pecahlah tawa di kelas. “Ir. Soekarno itu presiden Indonesia” celetuk temanku Musofa, Dian hanya bisa tersenyum malu, mendengar jawabannya salah.

“George Washington” jawabku malu-malu sambil menutup mata, “ya Allah ya Tuhan ku maha pemberi kemudahan, jadikanlah jawaban ku jawaban yang benar” bisikku dalam hati. “Yap benar sekali Jindan, kamu tahu dari mana nak?” tanya pak Abay, “saya suka membaca buku Ensiklopedia dunia pak” jawabku, sedetik kemudian pak Abay angkat bicara “nah anak-anak tirulah Jindan ini dengan rajin membaca buku maka ilmu yang kita dapatkan akan bertambah” jelas pak Abay sambil menepuk pundakku membuat hidungku mekar bagai bunga bakung, kulirik Aysel dia tersenyum manis kepadaku. Kesan pertama itu penting.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s