Perkenalan dengan Kakek Thariq dan Maryam

Perkenalan dengan Kakek Thariq dan Maryam

Langit tampak cerah, Mentari sedang menyunggingkan senyum terbaiknya kepada bumi yang menawan, burung-burung berterbangan seakan-akan sedang menyapa daratan yang dilewatinya, pohon-pohon bergoyang dihembus angin laut. Disebelah barat Desa Jagabaya, terdapat Desa yang bernama Desa Lebak Wangi, aku dengan sepedaku melaju pelan menerobos menuju Desa Lebak Wangi. Desa Lebak Wangi adalah desa yang indah, letaknya sebelah barat desa Jagabaya, mata pencarian penduduk sekitar adalah petani berbeda dengan desaku yang rata-rata penduduknya bermata pencarian kuli batu, di Desa Lebak Wangi inilah terkenal sebuah Curug yang bernama Curug Grahong dan disinilah terkadang aku dan kawan-kawanku bersantai melepas penat akibat rutinitas sehari-hari.

Aku menyusuri Desa Lebak Wangi dengan sepedaku, kulihat kanan dan kiri terdapat hamparan sawah luas membentang dari ujung ke ujung. Sebenarnya tujuanku melancong ke Desa Lebak Wangi adalah untuk mengunjungi teman sekolahku, tapi sayang tujuanku malah teralihkan oleh kerumunan yang sedang mengelilingi seorang kakek tua yang sedang bermain bola dipinngir jalan. Aku tertarik dengan kerumunan itu yang sedang memperhatikan seorang kakek tua bermain biola. Kuakui beliau memang mahir memain biola, gesekan dawai biola tersebut mengeluarkan alunan-alunan melodi indah yang sangat menenangkan hati dan pikiran.

Setelah cukup lama memainkan aksinya sang kakek pun menyudahi permainannya, giliran anak perempuan disebelahnya yang memulai aksinya. Dia menyorongkan sebuah plastik kecil berwarna hitam untuk meminta sedikit rejeki kepada para penonton. Saat gadis itu menghampiriku, aku keluarkan uang lima ribu rupian untuk mengapresiasi permainan biola kakek tua tersebut. Setelah dirasa cukup, gadis dan kakek itu bersiap-siap untuk segera pergi dan para penonton berhamburan pergi menuju tujuannya masing-masing. Ketika mereka sedang bersiap-siap merapikan biola, aku terus memperhatikan mereka dan baru kutahu ternyata kakek itu buta sehingga sang gadis harus menuntunnya untuk berjalan.

Sedikit rasa kagum terselip didalam hatiku, saat melihat gadis dan kakek itu saling bahu-membahu dalam mencari rejeki yang Allah SWT limpahkan kepada manusia. Aku terus memperhatikan kakek dan gadis tersebut, sehingga mereka meninggalkanku berjalan menuju tempat persinggahan berikutnya. Aku masih terdiam memandangi punggung mereka berdua, sehingga terbersit sebuah pikiran untuk membantu mereka berdua. Aku hampiri mereka dengan menggunakan sepeda ku. Mendengar laju sepeda menghampiri, membuat mereka sedikit kaget dengan keberadaanku, dengan ramah aku menawarkan bantuan kepada kakek dan gadis itu.

 

“Maaf menggangu, saya terkesan dengan permainan biola kakek” kataku sambil memuji mereka.

“Terimakasih anak muda, karena telah menonton pertunjukan kami tadi” kata kakek itu sambil tersenyum, senyum kakek tesebut tak kalah dengan gadis disebelahnya.

“Maaf kakek kalau begitu, boleh saya membantu kakek, saya sangat ingin membantu kakek” kataku sambil tersenyum mengharap.

“Tak usah anak muda, ada Maryam yang telah membantu kakek” kata kakek tersebut sambil menunjuk cucunya tersebut.

“Tak apa kakek, aku hanya ingin membantu, entah kenapa setelah melihat kakek, aku hanya ingin membantu” kataku sambil memelas.

“Baiklah, kalau kau memaksa” kata kakek dengan senyum indah di raut wajahnya.

“Siap kek” kataku sambil tersenyum dan menenteng biola.

Dengan ditemanani sinar Mentari dan hembusan angin, kami bertiga berjalan menuju Desa Cijapar, disanalah rejeki yang disiapkan Allah SWT menunggu kami. Sepanjang perjalanan aku dan kakek biola berbincang-bincang kecuali Maryam, dia hanya diam sambil sesekali menatapku. Ada sedikit raut wajah cemburu yang timbul dari mukanya, mungkin dia pikir aku akan merebut kakeknya.

Dari hasil berbincang-bincang dengan kakek biola kudapati banyak hal yang mengagumkan mengenai dirinya yaitu namanya adalah Thariq seperti nama salah satu Jenderal muslim penakluk Andalusia Thariq bin Ziyad, kemudian kakek ini hanyalah lulusan SMP tapi cara dia bermain biola layaknya seperti seorang maestro musik yang proffesional, dia mengaku kalau ia tertarik bermain biola ketika ia beranjak kelas 5 SD karena saat itu ia melihat sebuah pementasan musik di televisi, karena inilah dia bercita-cita untuk menjadi seorang maestro biola tapi sayang, itusemua hanyalah sebuah mimpi yang tidak dapat terwujud meskipun ia telah berlatih keras bertahun-tahun, dia juga menceritakan bagaimana ia bisa menjadi buta, penyebab ia buta adalah kecelakaan yang ia alami sewaktu muda dulu, tetapi dari semua hal mengenai dirinya yang paling mencengangkan yaitu Maryam bukanlah cucu kakek tersebut.

Rasa penasaranku terhadap kakek biola tersebut semakin memuncak, ketika aku tahu kalau Maryam bukanlan cucu kakek tersebut. Ketika aku ingin menanyakannya, sebersit pandangan tajam yang menusuk mengarah kepadaku, pandangan tajam tersebut adalah milik Maryam. Pandangan yang tajam inilah yang membuatku segan untuk bertanya kepada kakek Thariq. Meskipun dia menatapku dengan tatapan yang dingin dan tajam, itu semua tidak menghilangkan raut wajah cantik dan manis yang terdapat pada dirinya.

Mendapat tatapan yang dingin tersebut, aku hanya bisa menelan ludah dan tersenyum, kucoba untuk mengajaknya berbicara dengan cara menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang umum, tetapi sayang pertanyaanku hanya dibalas dengan jawaban yang singkat. Singkatnya jawaban yang diberikannya membuat aku sedikit agak kecewa, aku merasa bahwa Maryam tidak menyukai kehadiranku disini. Melihat ketegangan antara aku dan Maryam, kakek Thariq hanya bisa tersenyum meskipun ia buta tapi ia tahu bahwa Maryam sedang mengalami kondisi bad mood.

Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan untuk kakek Thariq dan Maryam tapi tidak untukku karena aku menggunakan sepedaku sedangkan mereka berjalan kaki. Kami tiba di Desa Cijapar setelah berjalan kira-kira selama satu jam. Setelah tiba di desa Cijapar, kakek segera menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk menggelar konser biolanya, aku segera menyerahkan biola tersebut kepada kakek Thariq dan dia menerimanya dengan senyuman.

Dalam beberapa menit setelah ia memulai menggesek biolanya, banyak sekali orang yang lalu lalang dan penasaran berkumpul untuk menyaksikan dirinya seorang maestro biola jalanan. Mendengar lantunan melodi indah yang keluar dari biola tersebut, aku hanya bisa tersenyum sambil memejamkan mata, sekilas aku melihat wajah Maryam, ia tampak tersenyum dan matanya tampak seakan-akan bercahaya mungkin lantunan melodi yang indah ini telah mengubah suasana hatinya.

Waktu semakin sore, Mentari mulai bersiap-siap kembali ketempat peristirahatannya. Kakek Thariq dan Maryam sedang bersiap-siap untuk pulang, Aku berdiri disamping kakek Thariq sambil membantunya. Entah mengapa aku merasa sangat sudah mengenal kakek Thariq padahal aku hanya baru mengenalnya beberapa jam, mungkin dikarenakan keramahannya sehingga pertemanan ini terasa sangat erat meskipun hanya megenalnya sebentar saja.

“Kakek maaf, aku harus segera pulang waktu sudah petang” kataku sambil menyunggingkan senyum.

“Terimakasih Jindan, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu”kata kakek Thariq dengan nada yang bersahabat.

“Kek, sebelum aku pulang aku ingin minta alamat rumah kakek” kataku.

“Kampung Pasir Beureum, RT/RW 01/05, Desa Lumpang” kata Maryam dengan datar.

“Terimakasih Maryam, kek InsyaAllah aku akan kesana setelah pulang sekolah kek” kataku

“Ya sudah kalau kamu datang kesana nanti kita jamu dengan makanan yang enak hehehehe” kata kakek Thariq sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Ya sudah, aku pamit dulu ya kek, sampai nanti” kataku sambil mengucapkan salam perpisahan.

“Hati-hati dijalan den Jindan” kata kakek Thariq sedangkan Maryam hanya melihatku dengan datar, aku masih tak tahu kenapa dia behitu dingin.

Kukayuh sepedaku dengan santai menuju kerumah, Mega merah menghiasi langit disambut dengan kawanan kelelawar yang mulai menyambut datangnya malam, bintang-bintang dan bulan mulai mengisi langit bagai pernak-pernik dimalam hari. Hari ini entah mengapa hatiku merasa tenang dan damai, mungkin karena hari ini aku telah membantu kakek Thariq dan Maryam dengan ikhlas.

 

 

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku pergi menuju rumah kakek Thariq dan Maryam, tidak sulit untuk menemukan rumah mereka dikarenakan kakek Thariq dan Maryam lumayan terkenal dilingkungan rumah mereka. Kuketuk pintu rumah mereka sambil mengucapkan salam, terdengar sambutan dari dalam, kulihat pintu terbuka sedikit demi sedikit dan kulihat sosok gadis muda ternyata Maryam yang menyambutku. Ada sedikit rasa canggung yang mnyelimuti hatiku, mungkin karena Maryam yang menyambutku. Kulihat Maryam tersenyum kepadaku, wajahnya tidak kaku dan sedingin kemarin, dia mempersilakanku untuk masuk kedalam dan aku menurutinya.

Aku duduk dilantai yang beralaskan karpet yang didepannya terdapat sebuah dipan kecil dan diatasnya terdapat sebuah pot berisi tanaman imitasi. Maryam kebelakang menuju dapur, dia menyiapkanberbagai macam makanan dan minuman untuk menyambutku. Sambil menunggu Maryam , aku lihat sekeliling rumah itu, meskipun rumah ini kecil tapi sangat rapih tidak ada sedikitpun debu yang hinggap pada lantai maupun dinding, tatanan letak tempat barang-barangnya juga sangat rapih dan terorganisir, dinding rumahnya dilukis dengan cat biru seakan-akan dinding itu adalah sebuah lautan dan tepat didinding lukisan tesebut terdapat sebuah gambar perahu layar yang lumayan besar tapi indah, Maryam dan kakek Thariq berhasil menanamkan seni yang indah kedalam rumah mereka, sehingga membuat rumah ini menakjubkan.

Setelah selesai menyiapkan kebutuhan untuk tamunya, Maryam bergegas keruang tamu untuk meletakkan makanan dan minuman keatas dipan dan dia pun duduk didepanku. Aku pun cukup kaget ketika menoreh kebelakang, ternyata dia sudah ada dihadapanku bersama dua cangkir teh manis dan satu toples kue kering.

“Oh aku kira kamu tidak datang Jindan hehehe” kata Maryam sambil tersenyum.

“Pasti datang dong, aku kan sudah janji sama kamu dan kakek” kataku.

“Iya hemmm ternyata kamu termasuk orang-orang yang amanah hahaha” kata Maryam sambil tersenyum.

Mendengar pujian darinya membuatku sedikit tersipu malu, tapi rasa malu itu cepat-cepat kusembunyikan agar aku tidak canggung saat berbicara empat mata seperti ini. Sambil menunggu kakek Thariq bangun, kami berdua berbincang mengenai segalanya dari hal-hal remeh temeh sampai hal-hal yang bersifat pribadi. Maryam yang kukenal kemarin sangat berbeda dengan yang sekarang, aku penasaran dengan perubahan sikapnya, maka dari itu aku pun menanyakan kepadanya.

“Maryam, kemaren kayanya jutek banget emang ada apa?” Tanyaku kepada Maryam.

“Oh kemaren hahahaha, kemaren aku jutek gara-gara kakek nyuruh aku untuk pulang kerumah orang tua aku hahaha” katanya ringan.

“Maksudnya ?” tanyaku sambil menggeleng-geleng kepala.

“Oh itu rahasia keluarga Jindan hahaha” kata Maryam sambil tersenyum.

Karena dia sudah berbicara seperti itu maka aku tidak berani menanyakannya lagi, sampai akhirnya kakek Thariq bangun dari peristirahatannya. Aku pun langsung bangun dari tempat dudukku dan langsung menyiumi tangan kakek Thariq dan mengucapkan salam. Ada perasaan tenang yang menjalar ditubuhku saat melihat wajah kakek Thariq, entah karena wibawanya sebagai seorang yang bijak atau karena Auranya, entahlah. Karena kakek Thariq sudah bangun, kami bertiga pun melanjutkan obrolan kami dengan menambahkan kakek Thariq sebagai anggotanya, saat kakek Thariq ikut obrolan ini dia menceritakan tentang masa mudanya, dia juga menceritakan kisah-kisah mengenai jenderal-jenderal perang dalam Islam, salah satunya adalah Thariq bin Ziyad.

Kakek Thariq menceritakan kehebatan Thariq bin Ziyad dalam memimpin ekspedisi menuju Andalusia dan menaklukannya dari cengkraman-cengkraman orang kafir, dengan kapal perang dan tentara sebanyak 13000, dengan gagahnya Thariq turun dari kapalnya dan memberi arahan kepada tentaranya sebelum perang. Disaat inilah aku mulai terkagum dengan Thariq bin Ziyad, sebelum penyerangan ke benteng Visigoth, Thariq membakar kapal perangnya dan berkata kepada tentaranya, ““Di belakang kita lautan, di depan kita musuh. Kita tidak dapat melarikan diri. Demi Allah Subhanahu Wata’ala  , kita datang ke bumi Andalusia untuk menjemput syahid atau meraih kemenangan. Demi Allah Subhanahu Wata’ala jika kita mundur, lautan akan menenggelamkan kita. Jika kita maju, musuh telah menanti kita. Kita hanya memiliki senjata, jika kita tenggelam di laut, nama kita tercemar dan Allah Subhanahu Wata’ala   akan mencabut rasa gentar di hati musuh. Jika kita maju, Allah Subhanahu Wata’ala   akan membuat musuh takut. Syahid dan syurga menunggu kita”. Kata-kata itulah yang membuat semangatku terpacu untuk menaklukan SMAKBO yang menjadi sekolahku nanti.

            Hari semakin sore, Mentari mulai kembali ketempat peristirahatannya sinarnya yang semakin redup membangunkan kelelawar-kelelawar yang mulai berterbangan untuk mencari rezeki, angin sore berhembus dingin menggugurkan dedaunan yang mulai menguning, waktu terus bergulir dan tak akan berhenti kecuali jika Tuhan yang memerintahkannya untuk berhenti, hari ini seorang anak laki-laki polos sedang menjalankan roda takdir yang dibentuk Tuhan kepadanya, entah dengan siapa lagi dia akan bertemu, akankah doanya untuk menjadi seorang yang besar akan terwujud, hanya gugurnya daun dan hempasan anginlah yang akan menjawabnya suatu hari nanti.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s