Sore yang indah

Sejak aku mengenalnya, entah kenapa semakin lama kulihat dia semakin menarik. Bahkan hanya mendengar namanya saja membuat jantungku berdegup tidak karuan. Pertama kali aku melihatnya yaitu,  saat ia menatapku sewaktu aku masuk kelas. Disanalah saat-saat aku merasakan  first love at first sight. Sebenarnya aku tidak pernah percaya yang namanya cinta pada pandangan pertama, bagiku itu adalah suatu kemustahilan, bagaimana mungkin orang yang baru bertemu sekilas bisa merasakan jatuh cinta, mungkin ini hanya kekaguman sesaat.

Tetapi entah mengapa saat ini aku sedang merasakan yang namanya first love at first sight. Aneh. Aku baca buku-buku mengenai Sains untuk mempersiapkan perlombaan bulan depan, selain membaca aku juga terus berlatih soal-soal dan juga membuat rangkuman, aku ingin para penguji tidak mempunyai pilihan untuk memilihku sebagai juara. Setelah lelah membaca dan berlatih soal, aku tenangkan pikiranku dengan tidur sejenak, saat aku hampir memejamkan mata, entah kenapa bayangan mata dan senyum indahnya menghampiri diriku.

“Astaga, ada apa denganku ?” tanyaku dalam hati. Aku bolak-balikan tubuhku untuk mencari posisi tidur yang nyaman, tapi sayang aku tidak bisa menemukan posisi yang tepat. Lelah dengan segala upaya akhirnya aku nyalakan radioku, mungkin dengan mendengar lagu akan membuat pikiranku tenang dan bayang-bayangan tentang dirinya menghilang. Ku stel lagu Iwan Fals yang judulnya kemesraan, sayang lagu itu malah semakin membuatku rindu kepadanya. Aku pasrah.

Aku bangkit dari tempat tidur dan kumatikan radio. Aku butuh suatu hiburan. Ku nyalakan televisi, kulihat disana ada seorang pria tidak tinggi, berkepala botak tapi suaranya gagah sekali. “Salam super hadirin sekalian, apa anda tahu cara menarik bagi kita agar disukai seseorang ?” tanyanya dengan suaranya yang berat, waw acara Mario Teguh sepertinya menarik, pikirku dalam hati. “Agar seseorang tertarik kepada kita, kuncinya hanya satu yaitu memantaskan diri karena dengan memantaskan dirilah kita akan bertemu jodoh yang pantas untuk kita” katanya. Hemm MEMANTASKAN DIRI, kata-kata yang singkat tapi mempunyai makna yang dalam.

Aku tulis kata-kata MEMANTASKAN DIRI besar-besar dangan lima tanda seru dibuku diariku. Aku harus membuat diriku pantas untuk bisa disandingkan dengan Aysel. Amin. Entah kenapa dengan menonton acara Mario Teguh membuat bayangan-bayangan itu pudar dan akhirnya menghilang diganti dengan semangat yang membara. Aku kembali berlatih soal-soal dan membuat rangkuman dengan dua tujuan, pertama yaitu mendapatkan juara pertama dalam lomba bidang studi dan kedua adalah yang paling mulia, yaitu membuat Aysel tersenyum, mulia sekali bukan ?.

Waktu berlalu dengan cepat, jarum jam terus bergerak sesuai takdir yang telah ditentukan dan waktu menunjukan pukul 09.00 malam. Aku bangkit dari meja belajar dan pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu, aku akan melaksanankan sholat isya. Saat aku akan melakukan takbiratul ihram, entah kenapa bayangan senyum dan mata indah itu kembali lagi. “Ya Allah ya Tuhanku, aku hanya ingin sholat dengan tenang maka dari itu tolong hilangkanlah bayangan itu saat aku hendak melaksanakan sholat” kata hati tulusku. Ajaib, doaku langsung di jabah oleh Allah dan aku bisa melaksanakan sholat dengan tenang. Setelah melaksanakan sholat, aku niatkan diriku untuk beristirahat. Aku lelah. Aku rebahkan badanku diatas kasur, tak sampai lima menit aku sudah hilang ditelan dunia mimpi.

“Jindan, aku suka kamu” kata Aysel dengan suaranya yang indah. Degg, jantungku berdegup kencang mendengar kalimat indah ini keluar dari mulutnya.”Ada apa ini, kenapa dia menyatakan perasaanya secara tiba-tiba kepadaku dan apakah ini nyata?” Kulihat lekat-lekat, sekeliling tempat aku dan Aysel berdiri, terdapat taman yang indah dengan air pancurnya, bangku taman yang berwarna putih, bunga berwarna-warni mekar disana sini dihinggapi lebah madu dan kulihat juga burung-burung berkicau dan langitpun tampak teduh. “Apa ini nyata ?” tanyaku dalam hati dengan curiga, saat aku ingin mengatakan, “aku juga menyukaimu Aysel”, Treeeeeeengggg tiba-tiba jam beakerku berbunyi dengan keras, aku bangun dari mimpiku aku kesal padahal sedikit lagi aku akan mengungkapkan perasaanku padanya, meskipun hanya dalam mimpi tapi sayang, jam beakerku menghianatiku.

Aku bangun dari tempat tidurku, kulihat jam dinding menunjukan pukul 05.00 pagi. Aku segera pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah mengambil air wudhu aku segera pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat shubuh. Sepanjang perjalanan, aku bertanya kepada diriku, “apa maksud dari mimpi tadi, pertanda baikkah atau pertanda burukkah ?, yang pasti itu adalah mimpi yang indah” kataku dalam hati.

Seperti biasa sehabis sholat subuh aku langsung berolahraga pagi, mandi, sarapan dan pergi kesekolah. Sewaktu dalam perjalanan menuju sekolah, aku melihat sosok yang sepertinya aku kenal dengan sweater merah jambu bertuliskan FRANCE dan topi rajut dari wol, Upps tidak salah lagi itu Aysel wanita dalam mimpiku semalam. Kupercepat langkahku, aku susul dia dan kemudian kusapa “hei”, mungkin dia kaget tidak menyangka kalau aku tiba-tiba berada disampingnya, “hei juga” jawabnya singkat.

“Gak dianterin ayah ?” tanyaku untuk membuka pembicaraan.

“Ayah tadi pergi pagi sekali, katanya tadi ada meeting di kantor” jawabnya.

“Yahhh sabar ya” kataku singkat, aku kehabisan topik pembicaraan.

“Kamu udah belajar sampai mana untuk persiapan lomba ?” tanyanya

“Udah lumayanlah, kalau kamu ?” tanyaku balik

“Iya masih ada yang aku gak ngerti masalah biologi nih” jawabnya

“Wah materi mana yang gak ngerti ?, gimana tar sore kita belajar bareng” aku bertanya sambil memberi usul.

“Boleh, nanti ajarin aku ya” jawabnya dengan senyum selebar buka mawar yang sedang mekar. Asik.

Kami berdua berjalan bersama hingga akhirnya sampai disekolah. Saat aku sampai entah kenapa semua mata memandang kami terutama laki-laki, mereka menatapku dengan tatapan cemburu. Aku langkahkan kakiku untuk masuk kekelas dan kusapa kawan-kawanku dengan senyum terbaikku.

“Coy, kekantin yukk” ajakku kepada Erlan dan Dian,

“Kami tidak ingin berteman dengan orang yang suka mencuri start duluan” kata Dian

“Start apaan ?” tanyaku pura-pura tidak mengerti

“Huuuu, pura-pura gak tau” Kata Erlan

“Apaan sih gak jelas” Ejekku kepada mereka

“Tadi lu jalan sama Aysel, huuu masih pura-pura gak tau” Kata mereka kompak

“Oh masalah itu, takut bersaing ya” Tantangku

“Mana takut ?, ayolah mulai hari ini kita bertiga bersaing secara sehat ya” kata Dian

“Ok siapa takut” Jawabku dan Erlan

Mulai hari ini kami adalah rival dalam masalah percintaan tetapi kami juga tetap menjaga ikatan persahabatan. Fastabikhul khairat adalah pepatah arab yang mempunyai arti berlomba-lomba lah kamu dalam kebaikan, pepatah itulah yang sedang kami terapkan dalam persaingan ini. Benih-benih persahabatan indah tumbuh diantara gugurnya dedaunan yang dihembus oleh angin pagi, hanya waktu yang akan bisa menjawabnya siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Jarum jam terus bergerak secara konsisten, detik demi detik berlalu, waktu terus bergulir dengan cepat tanpa ada yang bisa menghentikannya. Kadang aku berfikir sejenak dan bertanya dalam hati “Mungkinkah jika zaman semakin berkembang dan maju akankah mesin waktu ditemukan ?”. Aku pernah membaca sebuah artikel mengenai bagaimana cara membalikan waktu, ada satu cara yang mungkin bisa dibilang mustahil dan tidak sesuai dengan logika.  Kita dapat membalikkan waktu dengan cara, kita harus bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya. Sedangkan tubuh manusia akan hancur jika bergerak secepat suara apa lagi lebih cepat dari cahaya. Satu hal yang aku pelajari dari artikel mengenai waktu, yaitu sangat mustahil bagi manusia untuk menciptakan mesin waktu. Entahlah.

Waktu menunjukan pukul 16.00, aku mempunyai janji dengan seseorang. Ku masukkan rangkuman, buku sains dan soal-soal latihan kedalam tas, aku akan kerumah Aysel. Sebelum kerumah Aysel aku bersihkan tubuhku, kukenakan pakain terbaik milikku, ku semprotkan parfum ketubuhku terutama ketiak dan ku sisir rambutku serapih mungkin dan kutata rambutku dengan minyak rambut milik ayahku. Perfect, Tunggu aku Aysel.

Kukayuh sepedaku dengan pelan, ku lewati jalan kecil, dikiri-kanannya terdapat hamparan sawah luas membentang. Kulihat padi-padi yang mulai merunduk, burung berterbangan kesana kemari sambil memakan biji-biji padi. Di ujung seberang sana kulihat rumah  mewah di depannya terdapat kolam ikan berhiaskan air pancuran, beraneka macam bunga menghiasi halaman rumahnya dan disana juga terdapat berbagai macam burung hias, tidak salah lagi itu rumah Aysel. Kutekan bel di depan rumahnya, suara nyaring bel terdengar riuh seketika ku lihat pintu gerbang terbuka.

“Ada yang bisa saya bantu de ?” tanya seorang wanita paruh baya

“maaf bu ada Ayselnya tidak ?, saya Jindan Fahmi temen sekelas Aysel” kataku dengan malu-malu

“Non Aysel ada temannya sekolahnya nih” panggil wanita paruh baya itu

Tak lama kemudian, kulihat Aysel keluar dari pintu rumahnya dengan mengenakan pakain casual dan topi rajut wolnya.Seperti biasa jantungku berdetak tidak karuan dan mukaku tiba-tiba memerah. Aku grogi. Ternyata yang keluar bukan hanya Aysel, kulihat sosok tinggi kutaksir tingginya sekitar 180 cm, berbadan tegap,  mempunyai janggut yang tebal dan berkacamata, siapakah dia ?. “Dan kita belajar di saung aja ya, bentar aku ambil buku-buku dulu ya” kata Aysel, “Yaudah” jawabku singkat. Aysel kembali kedalam, meninggalkan aku dengan sosok besar yang tidak lain adalah ayahnya.

“Kamu temannya Aysel ?” tanya ayahnya Aysel

“Iya om, saya temannya Aysel” kataku dengan nada yang diberani-beranikan

“Hemm, mau belajar bareng ya?” tanyanya lagi

“Iya om, saya sama Aysel bakal mewakili sekolah untuk ikut perlombaan SAINS tingkat kabupaten” jawabku dengan bangga

“Hemm yaudah belajar yang bener,  mudah-mudahan Juara ya” katanya sambil meninggalkanku

“Iya om, terimakasih” kataku

Aysel keluar dengan menenteng tas sekolahnya dan duduk tepat didepanku. Aku menatapnya dan terfokus pada bando yang ia kenakan lalu bertanya kepadanya “perasaan tadi kamu gak pake bando deh, lah sekarang kok tiba-tiba pake bando sih. Wah biar lancar bukan belajarnya ?.” Sekilas kulihat raut mukanya menjadi kemerahan, “udah ah belajar aja, malah ngurus bando hahaha” katanya sambil tertawa kecil.  Kami pun akhirnya belajar bersama tapi disela-sela belajar, aku menyisipkan sebuah lelucon untuk melepas jenuh, saat aku membuat lelucon dia tertawa terbahak-bahak, kemudian dia membalas leluconku dan gantian aku yang tertawa terbahak-bahak hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 17.30.

Saat itu kami sudah bosan membahas materi pelajaran, aku diam sejenak sambil bersender diatas saung bambu, entah setan apa yang merasuk dalam pikiranku, tiba-tiba aku bertanya kepada Aysel, “apa sih arti hidup buat kamu Aysel?”, Aku tersedak sendiri mendengar pertanyaanku yang terasa nyaring dan garing. Aneh rasanya bertanya dengan gaya filosofis di tengah kejenuhan setelah belajar. Sedetik kemudian aku melihat tidak ada reaksi apa-apa darinya, mungkin dia tidak mendengar pertanyaanku, syukurlah. Tapi tiba-tiba kulihat tangannya bergerak seperti sedang mengisyaratkan sesuatu, kemudian dia berkata “Kok pertanyaan susah amat sih.” Mungkin dia takjub atau terintimidasi dengan pertanyaan berat ini. Ah pastilah cukup berat buat anak kota yang gaul seperti dia. Dia menatapku dengan sorot matanya yang teduh sambil tersenyum tipis.

“Percaya atau tidak terkadang aku selalu memikirkan pertanyaan ini, apa arti hidup ? dan  kenapa aku lahir ? Tapi aku mempunyai kesimpulan yaitu hidup adalah anugerah dari Tuhan dan kita harus bersyukur serta menjalaninya dan menjauhi larangannya, jika melakukan itu pasti kita akan hidup bahagia” Katanya.

Mendengar jawabannya aku mengangguk setuju, tapi bagiku itu masih jawaban yang dangkal belum kena dihati. Tiba-tiba dia bertanya balik kepadaku “kalau kamu, apa arti hidup bagimu ?” Astaga mati aku, ku lihat sekelilingku sambil mencari jawaban yang paling filosofis dari buku-buku  yang pernah aku baca. “Kalau bagiku hidup itu adalah perintah, yaitu perintah untuk mengabdi kepada Tuhan dan perintah untuk menjadi seorang khalifah dimuka bumi ini, Manusia awalnya adalah mahluk rohani kemudian diberi jasad oleh tuhan dan diberi perintah tersebut ,aku yakin jika kedua perintah ini dijalankan maka manusia akan hidup bahagia selamanya.”

Mendengar jawabanku dia hanya bisa terpaku diam, mungkin jawabanku terlalu berat untuk dipahami.

“Ckckck, wah hebat dapat dari mana tuh jawaban ?” tanyanya

“Oh itu dari buku-buku yang sering aku baca” jawabku

“ Wah keren bacaannya, masih kelas 3SMP, tapi tadi jawabannya dewasa banget hahaha. Wah beruntung banget kalau punya cowo kaya kamu Dan” katanya sambil tertawa

Mendengar komentarnya membuat jantung ku berdebar tidak karuan, pipiku merah merona dan tiba-tiba aku jadi salah tingkah didepannya. “Andai kamu tahu Aysel, kalau aku sebenarnya sangat menyukaimu” kataku dalam hati.

“Aysel, aku pulang dulu ya nanti kita lanjutin besok. Kalau ada yang gak ngerti tanya aja” kataku

“Iya makasih banyak ya, udah bantuin belajar. Jarang loh aku nemuin temen cowo yang kaya kamu Dan. Pinter wawasan agamanya luas perfect deh” kata Aysel

“Ahhhh, biasa aja banyakin baca buku aja sih. Kuncinya” kataku sambil merendah dan memberi saran

“Sipp makasih ya sarannya, hati-hati ya. Jangan lupa sholat maghrib nanti dirumah” katanya

“Sipp, Wassalamualaikum” kataku

“Walaikumsallam” jawab dia

Kukayuh sepedaku dengan santai, langit tampak berwarna kemerahan berhiaskan mega merah, bulan pun menyembul keluar menggantikan matahari yang sudah tak menampakan wajahnya dan kelelawar berterbangan kesana kemari tak beraturan. Kutengok kebelakang, kulihat Aysel masih melihatku, sedetik kemudian aku pusatkan pandanganku kedepan dan fokus kepada sepeda yang sedang kukayuh. Setelah belajar bersama ini, entah mengapa  aku makin mengenal watak dan kepribadian Aysel, bukan hanya karena kecantikannya saja yang membuatku terpikat tapi tingkah lakunya dalam berprilaku dan berbicara juga patut diacungi jempol. Dari sekian banyak gadis yang kutemui, hanya dialah yang mampu mebuat hatiku meleleh.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s